Blog

Home /Blog / Neuromarketing : Membuat Marketing Ilmiah





Neuromarketing : Membuat Marketing Ilmiah

Marketing bisa menjadi hal paling penting yang wajib ditekankan pada setiap perusahaan. Tujuannya untuk memasarkan produk dan jasa agar terbeli dan terjadilah pemasukkan pada perusahaan tersebut.

Sebagai tindakan seni yang dilakukan berdasarkan insting dan pengalaman, ternyata marketing juga bisa diperkirakan secara ilmiah. Hal ini yang dijadikan acuan perusahaan untuk menanamkan taktik strategi pemasaran. Salah satu yang paling digencarkan pada perusahaan advance adalah neuro marketing.

Istilah neuromarketing telah puluhan tahun ditemukan, semenjak ilmu pemasaran pertama kali berkembang dengan memanfaatkan psikologi sosial agar bisa mempengaruhi calon konsumen untuk membeli produk. Eksploitasi perilaku dasar manusia dan perilaku interaksi konsumen terhadap desain produk, iklan dan strategi pemasaran lainnya menjadi pondasi kuat untuk membentuk neuromarketing.

Salah satu awal penyusunan data dan fakta di lapangan yakni menggunakan riset pasar, namun hal ini saja tidak cukup. Perusahaan tidak akan menggunakan dana terlalu besar untuk mendapatkan data data produk saja. Selebihnya perilaku konsumen tarhadap produk atau jasa juga menjadi pengamatan yang penting. Alhasil, perilaku konsumen akan jadi acuan untuk menciptakan produk atau jasa sesuai atau lebih besar dari ekspektasi pelanggan.

Untuk menghindari kegagalan pemasaran produk, perusahaan akan memaksimalkan pemanfaatan reaksi emosional ketika melihat iklan, desain produk atau rekomendasi produk dari endorsement. Cara inilah yang disebut dengan teknik neuromarketing.

Dalam bahasa lain, neuromarketing didefinisikan sebagai teknik untuk memahami dampak rangsangan iklan terhadap reaksi emosional calon pelanggan. Fokusnya jelas untuk membuat daya tarik pembeli dari iklan produk yang ditayangkan.

Pengenalan teknik neuromarketing sudah dilakukan sejak tahun 1990, pertama kali banyak dibahas di kampus Harvard University oleh professor Jerry Zaltmen. Hingga dipopulerkan sejak tahun 2002 oleh Prof. Dr. Ir. Ale Smidts dari Erasmus Research Institute of Management (wikipedia).

Metode yang digunakan dalam ilmu ini adalah perubahan reaksi neurologis konsumen ketika melihat iklan, merek, produk, kemasan dan lainnya. Perusahaan akan memanipulasi daya tarik ini agar menjadi maksimal dan memberikan keuntungan besar pada penjualan produk atau jasa. Bagi semua jenis bisnis, teknik ini bisa digunakan hanya berbeda segmen tergantung pada target market yang dituju.

Teknik modern neuromarketing saat ini bisa dilakukan dengan alat bantu yaitu EEG (electroencephalogram),yang bisa mengukur aktivitas listrik di dalam otak manusia. Sinyal-sinyal listrik yang muncul dapat dianalisa dengan hasil reaksi emosional yang sangat jelas.

Konsep dasarnya seperti ini, pada saat kita memikirkan sesuatu maka akan ada korteks motorik yang berjalan dan menghasilkan artikulator ketika kita merespon. EEG bisa menangkap setiap impuls yang datang dan saat otak menerima rangsangan maka akan diketahui dengan cepat. Respon yang terjadi di bawah kendali alam bawah sadar ini akan masuk ke dalam memori dan emosi tertentu hingga ke otak. Faktanya, hanya dengan setengah detik saja kita bisa mengetahui respon seseorang ketika melihat, memikirkan atau menganalisa sebuah produk tertentu.

Studi ilmiah pernah dilakukan tentang neuromarketing pada tes buta rasa antara pepsi vs coca-cola yang pernah jadi perbincangan hangat tahun 2004.

Teknik ini sama halnya memaksa calon pembeli melalui alam bawah sadar untuk memanipulasi cara pandang mereka terhadap produk yang kita jual. Manipulasi yang tepat akan membuat mereka cenderung membeli, baik itu karena kebutuhan atau keinginan.

Cara menggunakannya sangat sederhana, ada dua teknik yang paling populer digunakan para marketers yang berbasis pada neuromarketing. Kedua teknik tersebut diantaranya.

1. Ciptakan Sebab Akibat

Sebuah kajian telah dilakukan oleh ahli psikologi dari Harvard, Ellen Langer. Dia menamakan ini sebagai “XEROX Copy”. Kajian objektif dilakukan dengan memberikan informasi sebab akibat untuk mempengaruhi alam bawah sadar manusia.

Perlakuan yang dilakukan yaitu dengan memotong barisan atau antrian pada tempat fotokopi.

Kasus pertama : Pemuda mengatakan ingin fotokopi hanya 5 lembar saja. 60% orang menerima untuk melewati antrean.

Kasus kedua : Pemuda itu mengatakan bahwa dia hanya akan fotokopi 5 halaman saja, dia sangat perlu sekali kelima salinan surat tersebut. Menariknya 93% orang mengijinkan untuk melewati antrean.

Para ilmuan berkesimpulan bahwa secara alam bawah sadar, manusia membutuhkan jawaban atau sebab akibat atas apa yang harus dilakukannya. Meskipun logis atau tidak, alasan bisa membantu mempengaruhi emosi seseorang untuk melakukan sesuatu.

Dalam dunia marketing, cara ini dilakukan dengan memperkenalkan produk dan mengatakan bahwa calon konsumen membutuhkan ini. Kemudian mengatakan alasan kenapa harus menggunakan produk ini segera atau membeli pada sales tersebut.

2. Menyediakan Pilihan

Hidup manusia selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan. Studi kasus pernah dilakukan bahwa keinginan konsumen membeli produk dengan 24 pilihan adalah 3% sedangkan keinginan membeli jika dihadapkan dengan 6 pilihan adalah 30%.

Memberi terlalu banyak pilihan justru akan membuat manusia jenuh dan bisa jadi tidak akan memilih, namun jika pilihan terbatas mereka cenderung akan memilih. Teknik ini digunakan oleh para pebisnis kuliner dengan tidak terlalu banyak memberikan pilihan pada menu makanan mereka. Hanya makanan-makanan andalan dan yang khas saja yang ditunjukkan pada calon konsumen.

Mempelajari teknik neuromarketing sama halnya dengan belajar mempengaruhi keinginan konsumen untuk membeli sesuatu. Pada skala besar, teknik ini bisa mempengaruhi konsumen dalam jumlah sangat banyak. Inilah yang disebut komunikasi marketing dengan mengubah persepsi/pandangan masyarakat akan produk tertentu.

 

Salam pencerahan,

Tom MC Ifle