Mengatasi Pemborosan

//Mengatasi Pemborosan

Mengatasi Pemborosan

Mengutip berita di bisnis.com 1 april 2016, nilai kredit yang disalurkan perbankan hingga akhir februari 2016 sebesar Rp 3.996,6 triliun, atau hanya bertumbuh 8% secara tahunan. Deputi gubernur senior BI Mirza Adityaswara mengatakan pertumbuhan kredit yang rendah tersebut, lantaran kondisi pergerakan ekonomi yang masih melambat.

Dalam dunia bisnis, perlambatan ekonomi terjadi ketika penjualan menurun, biaya membengkak, supply melebihi demand. Sebut saja kinerja sektor manufaktur anjlok, pada triwulan i 2015 hanya tumbuh 3,81 persen. Banyak industri, terutama usaha kecil dan menengah, mengalami kesulitan. Akibatnya, tidak sedikit terjadi kredit macet akhirnya non-performing loan (npl) juga meningkat.

Nah, jika krisis ekonomi 2007/2008, struktur perekonomian indonesia yang relatif tidak rentan terhadap krisis moneter karena sektor umkm merupakan unit usaha terbesar tidak terlalu tergantung pada pembiayaan perbankan. Saat ini sektor umkm justru bisa terkapar jika daya beli masyarakat rendah.

Apa yang bisa kita lakukan

Mungkin Anda sering mendengar istilah continuous improvement dan beberapa metode yang dipopulerkan oleh toyota. Continuous improvement adalah usaha-usaha berkelanjutan yang dilakukan untuk mengembangkan dan memperbaiki produk, pelayanan, ataupun proses.

Dalam program continuous improvement sering kali melibatkan business process reengineering yaitu dengan mendesain ulang secara radikal dari proses bisnis inti untuk mencapai perbaikan dramatis dalam produktivitas, lead time dan kualitas.

Pemborosan yang tidak terlihat

Ketika melatih sebuah perusahaan, saya menitikberatkan pada kemampuan perusahaan menciptakan nilai tambah bagi pelanggan. Apapun yang tidak bersedia dibayar oleh konsumen kita masukkan kedalam kategori pemborosan.

Contoh: sebuah perusahaan distributor alat-alat listrik seperti: switch, plug, socket, ampere meter, led. Produk bagus, dibutuhkan konsumen, lengkap yang pasti memiliki daya saing karena harga kompetitif.

Pada tahun 2014 perusahaan ini memutuskan untuk menargetkan penjualan lebih tinggi dari biasanya. Untuk itu dibutuhkan inventory yang lebih banyak. Selain akan mendapat harga miring dari supplier mereka juga sangat yakin dengan penyerapan pasar. Kenyataan sangat berbeda dengan perencanaan, karena market properti turun hampir 50%. Para kontraktor langganan bahkan ada yang selama tiga bulan tidak mendapat proyek baru.

Stok yang ada tidak bisa diretur. Harga tidak mungkin lebih rendah atau jual rugi. Akhirnya, 4 milyar rupiah menjadi deadstock! Untuk menutupi biaya deadstock, perusahaan harus menaikkan harga jual. Konsumen dipaksa membayar mahal karena kesalahan perusahaan. Apakah konsumen mau? Ini yang disebut non value added.

Ada banyak contoh lain berupa aktifitas yang biasa dilakukan tapi sesungguhnya merupakan pemborosan. Seperti: Sering mengulang pekerjaan (rework), memproduksi barang reject, kualitas produksi yang rendah, inventori membengkak (buffer inventories tinggi), lini produksi terhenti karena kegagalan mesin. Bisa juga produksi terhenti karena kekurangan material, prosedur dan instruksi kerja yang tidak jelas, tingkat absensi karyawan tinggi. Di banyak pabrik waktu setup mesin lama akhirnya menimbun stok, kualitas material yang rendah, keterlambatan pengiriman, salah kirim barang atau kelebihan jumlah pegawai

Bayangkan, jika perusahaan tidak efisien, satu-satunya cara bertahan adalah menutupinya dengan harga yang lebih mahal. Lebih parah lagi jika daya beli konsumen menurun, tentunya pilihan konsumen adalah berhemat atau mencari alternative produk yang lebih terjangkau. Inilah awal mula krisis!

Satu strategi untuk menekan pemborosan

Salah satu penyebab bisnis tidak efisien adalah proses yang berlebihan, birokrasi yang panjang atau hasil yang tidak standar. Penyebabnya adalah : standar tidak jelas, spesifikasi konsumen tidak dipahami, mengulang, mengoreksi, melakukan inspeksi yang berlebihan dan karyawan tidak terlatih

Kasus paling mudah adalah ketika satu keputusan yang biasa harus melalui proses tanda-tangan berbagai pihak. Sehingga ketika satu petugas tidak ditempat, proses akan tertunda dan akhirnya menunggu. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan metode kerja.

Menghilangkan pemborosan akibat overprocessing
Untuk mencegah pemborosan akibat proses berbelit ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah dengan memahami kriteria konsumen. Seperti: apa yang mereka inginkan, seberapa cepat yang mereka butuhkan, berapa tinggi kualitasnya. Anda bisa melakukan review seluruh prosedur, pertanyakan, apakah proses ini memberi nilai tambah atau hanya pemborosan.

Coba Anda perhatikan:
Apakah seluruh proses masih menggunakan alat manual atau teknologi terkini? Apakah seluruh karyawan terlatih untuk meghasilkan produk berkualitas? Apakah seluruh tim memahami spesifikasi yang diharapkan konsumen? Apakah ada pemborosan lain yang mengakibatkan menunggu? Apakah ada proses yang bisa dipangkas?

Bebas pemborosan, harga lebih kompetitif
Setiap kali Anda memangkas proses yang tidak memberi nilai tambah, Anda mengalihkan biaya menjadi laba. Laba yang maksimal bisa Anda kembalikan ke konsumen berupa harga kompetitif, hadiah, bonus, insentif yang akhirnya meningkatkan loyalitas.

Jokowi mencanangkan untuk memperpendek proses seperti misalnya izin pembangkit listrik membutuhkan waktu selama 2,5 tahun sedangkan di dubai hanya butuh 1 jam. Wajar jika satu proses ini saja jika diperpendek akan menarik banyak investor. Alangkah indahnya jika perizinan untuk investasi pembangkit listrik ( power plant ) memerlukan 52 jenis izin dan waktu sekitar 930 hari bisa dipangkas 50% dan mempercepat terlaksananya program-progam yang sudah baik direncanakan.

Mari, pangkas birokrasi, proses berbelit, serta seluruh pemborosan dengan lebih serius agar perlambatan bisnis bisa diobati segera.

 

 

Salam pencerahan,

Tom MC Ifle

 

By |2018-06-22T13:33:56+00:00May 25th, 2018|Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

Translate »