JANGAN PINJAM UANG ONLINE

//JANGAN PINJAM UANG ONLINE

JANGAN PINJAM UANG ONLINE

Sekarang lagi banyaknya keluhan para masayrakat di Indonesia tentang maraknya peminjaman online atau dikenal sebagai fintech (Financial Technology).  Akses yang tergolong cukup mudah dengan syarat yang tidak rumit  mungkin menjadi pertimbangan banyak masyarakat untuk meminjam di aplikasi fintech tersebut. Bayangkan dengan hanya modal KTP saja anda bisa meminjam uang antara Rp 500.000 – RP 5.000.000 rupiah.

Baca Juga : 5 Jebakan Rentenir Online

Kalian bisa menemukan aplikasi fintech di website atau playstore yang dapat dijangkau hanya dengan mendownload 5 menit saja. Siapapun akan tertarik untuk meminjam ke fintech karena tidak melalui prosedur yang rumit. Beda hal nya dengan peminjaman di Bank seperti KTA Pegadaian atau Koperasi.

Karena mereka pasti memiliki banyak syarat untuk kita yang akan mengajukan peminjaman apalagi dengan jumlah yang besar. Mereka pasti meminta jaminan ke kita sebagai salah satu prosedur peminjaman. Kalau dipikir pikir pasti tidak semua orang bisa memenuhi prosedur dan syarat peminjaman di tempat yang ada agunan nya .

Maka dari itu fintech memiliki kesempatan untuk mengambil peluang tersebut untuk memberi kepercayaan kepada semua masyarakat untuk meminjam kebutuhan financial di aplikasi mereka. Tetapi  aplikasi fintech yang lagi marak di perbincangkan sekarang belum memiliki perizinan oleh Otoritas Jasa Keuangan alias Ilegal yang artinya aplikasi fintech tersebut masih bodong dan tidak memiliki badan hukum.  Harusnya OJK bisa mengatasi mereka dan tidak memperbolehkan mereka untuk berdiri karena tidak memiliki SOP yang jelas.

Dengarkan dan Download : Time is Money

Seperti halnya sekarang sudah banyak berita di koran maupun media tentang keluh kesah masyarakat yang melaporkan masalah ini ke LBH dan juga OJK, bahkan diantaranya sudah banyak korban mengalami stress dan tekanan batin akibat perbuatan pelanggaran fintech kepada mereka yang meminjam di aplikasi tersebut.  Banyak pelanggaran HAM yang dilakukan oleh para fintech kepada mereka yang meminjam tetapi tidak bisa membayar kembali karena faktor bunga yang sangat tinggi.

Disini kita akan membahas kenapa fintech bisa memberikan dampak negatif kepada kita yang meminjam dana mereka. Berikut Contoh Aplikasi yang marak di perbincangkan masyarakat karena etika penagihan yang tidak sopan dan sadis , sebut saja Rupiah Plus.

Yang masyarakat tahu meminjam di fintech atau Rupiah Plus sangatlah mudah dengan hanya mendownload dan mengajukan KTP 5 menit serta mengisi data-data yang wajib diisi dan kontak darurat yang dapat dihubungi saat  terlambat melunasi tagihan.

Padahal masyarakat tidak menyadari suatu hal yang sangat penting, disaat kita mendownload dan membuka aplikasi fintech tersebut muncul kalimat perizinan untuk mengakses kontak, panggilan masuk dan keluar serta hal lainnya yang mau tidak mau harus kita perbolehkan masuk karena jika kita menekan tidak maka kita tidak bisa meminjam di aplikasi mereka . Itu adalah salah satu mengapa aplikasi fintech mudah diakses karena perizinan itulah yang menjadi pegangan mereka disaat kita telat untuk melunasi tagihan nya.

Terkadang kita berpikir kenapa ada fintech yah? Seharusnya fintech bisa memudahkan kita eh ujungnya mala bikin kita stress sendiri dan menjadi tekanan batin .

Dan hal yang tidak masuk akal nya lagi bunga mereka melebihi bunga bank yang artinya sehari itu bunga nya bs 3% dan besok nya atau minggu selanjutnya bisa 20%, tidak terbayang lagi jika kita meminjam Rp 1.500.000 kita harus mengembalikan Rp 2.500.000 selama 14 hari atau 28 hari padahal yang dikirim fintech hanyalah 1.000.000 krn dipotong oleh admin mereka . Apakah kita untung? Jawabannya Tidak Sama Sekali.  Selama kita memiliki dana dan bisa  membayar tidak masalah tetapi bagaimana disaat jatuh tempo kita tidak bisa membayar dan telat?

Sudah banyak korban yang putus asa dan bunuh diri akibat perbuatan fintech ini. Karena mereka tidak sanggup untuk membayar dengan bunga yang tinggi . Mereka diantaranya merasa malu karena akses perizinan diawal kita meminjam adalah cara yang di gunakan oleh fintech untuk menyebar bill tagihan nasabah ke semua kontak nomor  handphone yang ada di kontak nasabah mereka , bahkan mereka tidak segan untuk meminta kepada Bos atau atasan nasabah mereka untuk ganti rugi jumlah utang yang belum dibayarkan.

Alhasil banyak diantaranya setelah diusik kehidupan nya mereka dipecat karena teman atau atasan mereka merasa terganggu dan hak privasi pun diancam oleh collector fintech yang harusnya mereka tidak terlibat. Kehilangan pekerjaan, arah dan tujuan bukan menjadi solusi untuk mengembalikan duit yang dipinjam malah menambah masalah yang ada . Kemudian malu akibat foto disebar dan dibuatkan group WA untuk menanggung utang mereka yang belum dibayar

Sangatlah tidak etis menyebarkan kesusahan orang yang harusnya orang lain tidak tahu , tidak ada lagi privasi karena semua data nasabah mereka  disebarluaskan melalui sms, telfon dan wa sampai kita membayar.

Fintech tidak peduli dan  tidak akan mentoleransi nasabah mereka yang tidak membayar tepat waktu, kehidupan mereka akan selalu diusik , teman dekat mereka akan selalu dikejar ,dihubungi bahkan fintech bisa memaki dengan kata- kata kasar.

Dengan banyak nya kejadian dan keluhan masyarakat akibat ulah fintech, LBH dan OJK akhirnya menangani kasus tersebut , beberapa fintech diblokir tapi diantaranya masih saja berkeliaran dan rajin untuk menggonta ganti nama di playstore.

Keminfo pun sudah melakukan upaya sebaik mungkin bahkan diantaranya ada fintech yang bangkrut dan tutup akibat tidak ada dana yang masuk kembali .

Baca Juga : Peer to Peer Lending Merugikan?

Setelah ditelusuri ternyata fintech tersebut kebanyakan dimiliki oleh perusahaan cina mereka dimodali  untuk membuka usaha tersebut dan memang sangat susah untuk meminta perizinan oleh OJK makanya hampir semua fintech adalah Ilegal, bahkan pihak fintech mengancam nasabahnya akan dimasukin ke penjara jika tidak membayar padahal di Indonesia masalah utang piutang tidak dimasukkan ke hukum pidana melainkan perdata.

Hingga saat ini pun pihak masyarakat yang meminjam fintech mulai redup akibat penanganan yang sudah dilakukan oleh pihak OJK,  mereka sudah tidak sering diganggu dan tidak ditelfonin berulang kali tiap menit bahkan ancaman kasar dan bahasa-bahasa tidak menyenangkan pun sedikit demi sedikit sudah menghilang walaupun masih ada fintech yang masih nakal dan mengaggu namun tidak separah dulu .

Kita tidak tahu taktik apalagi yang akan di tunjukkan oleh para fintech untuk mereka menagih tetapi kita tidak usah khawatir karena mereka adalah lembaga ilegal yang tidak memiliki badan hukum maka posisi mereka tidak kuat untuk membuat kita lemah .

Dengarkan dan Download : Strategi Marketing

Jangan lah kita kembali untuk meminjam di aplikasi yang tidak jelas , awal nya menggiurkan tetapi akhirnya menjadi bencana dan ancaman hidup . Memang di dunia ini bukanlah kita sendiri yang merasa ancaman itu tetapi alangkah baiknya kita menghindari hal seperti itu agar kita terlepas dari riba yang sangat besar.

Jika kita membutuhkan dana tambahan untuk keperluan yang sangat penting kita bisa meminjam ke teman atau orang tua dan lembaga yang sudah berwenang seperti KTA BANK, KOPERASI dan Pegadaian. Karena walaupun kita telat membayar di lembaga yang sah , kita tidak perlu takut data diri kita tersebar, tidak seperti fintech yang sangatlah kejam membuat kita stress.  Cara mereka sangatlah salah jika dengan cara tersebut nasabah mereka bisa langsung membayar  yang ada menjadi masalah.

Semoga fintech bisa diberantaskan oleh pihak OJK,  karena mereka sangat merugikan masyarakat yang terlanjur meminjam di aplikasi fintech dan jika bisa akses mereka harusnya diblokir karena tidak memiliki kesahan yang jelas.

 

By |2019-07-10T11:35:25+00:00July 10th, 2019|Finance|0 Comments